Rabu, 14 November 2012

Misteri makam tak bernisan


Taki bergegas meninggalkan rumah,namun sesaat kemudian balik lagi untuk mengambil termos plastik yang tergantung di paku bilik kamarnya.
   "Tidak istirahat dulu,Ki?"tanya ibunya ketika melihat Taki buru-buru sekali.
   "Tidak, Bu!Takut dimarahi Pak Sayupi,"jawab Taki.
   Ibunya Hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya melihat kepergian anak satu-satunya itu.
   Setengah berlari, Taki menghampiri kandang kambing yang terletak di belakang rumahnya.Tangannya begitu cekatan membuka pintu kandang hingga sebentar saja pintu kandang itu sudah terbuka.Lima belas ekor kambing seakan gembira berlari ke luar meninggalkan kandangnya membuntuti Sang Tuan menuju perbukitan yang luas menghijau.

 "Mbeeeek... mbeeeek..... mbeeeek!"suara kambing-kambing itu membelah kesunyian saat orang-orang sedang asyik istirahat siang.
   "Diamlah, manis! Nanti saya ajak kalian ke tempat yang kemarin..." kambing-kambing itu berhenti mengembik seolah mengerti bahasa tuannya.
   Sambil membuntuti, sesekai kambing-kambing itu memakan rumput yang tumbuh subur di pinggir jalan setapak yang dilaluinya.
   Taki membawa kambing gembalaannya melewati kubu-kubu tempat membuat genteng dari tanah liat. Kubu-Kubu itu terletak di kampung Pematang. Hampir seluruh kepala keluarga di
kampung itu mempunyai kubu.
   "Hoooo, Taki! Mau, nggak?" teriak seseorang dari dalam kubu itu.Taki menoleh ke arah suara yang berteriak,ternyata Itok.Taki tersenyum seraya berlari menghampiri.
   "Mau ngasih apa, Tok," tanya Taki.
   "Ini!" Itok nenunjukkan nangka besar yang telah dibelah.
   "Dari mana ini?" tanya Taki sambil tangan kanannya menerima pemberian Itok.
   "Tadi sebelum bekerja, saya disuruh membelah nangka ini oleh Pang Sublili, kemudian saya diberi sebagian!" Itok menjelaskan.
   "Kenapa tidak dihabiskan?"
   "Sengaja, untuk kamu sebab saya tahu kamu akan lewat."
   "Terima kasih, Tok!" Itok menganggukan kepala.
   "Kalau teman yang lainnya ke mana?"
   "Belum datang!" jawab Itok.
   "O, ya,Ki. Aku akan ikut menggembala denganmu. Noleh, tidak?"
   "Boleh saja.Tapi kerjamu sendiri, bagaimana?"
   "Tidak apa. Aku sudah minta izin kepada Pak Sublili bahwa hari ini tidak kerja!"
   "Kalau begitu, mari kita berangkat!" ajak Taki.
   "Habiskan dulu nangkanya!"
   "Nanti saja. Buat bekal di padang rumput nanti."
   Akhirnya, mereka berjalan bersama menuju padang rumput yang letaknya tidak terlalu jauh dari perkampungan kubu.


>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>To Be Continued<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

 
Erzaw's © 2007 Template feito por Templates para Você